Jakarta, 8 April 2021 ― Pertamina Foundation kembali luncurkan program PFseries, kali ini program PFsains 2021 yang merupakan ajang kompetisi implementasi karya hasil penelitian terkait inovasi energi baru dan terbarukan. Program ini telah diluncurkan dan dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain perwakilan perguruan tinggi seluruh Indonesia, lembaga penelitian, pegiat teknologi tepat guna dan para praktisi energi.

Koeshartanto, Ketua Dewan Pembina Pertamina Foundation membuka acara dengan menyampaikan harapan besarnya terhadap program ini.

“Saya percaya bahwa program-program seperti ini bisa berhasil dan diikuti dengan antusiasme yang tinggi. Apabila trennya semakin besar, kita menuju pada titik yang kita harapkan bersama. Dalam perjalanan menuju revolusi industri 5.0, kami yakin tidak akan bisa dihindarkan dari peran strategis energi dan generasi muda dalam mengawal dan mengembangkannya,” ujar Koeshartanto, Kamis (8/4).

Setelah sukses di tahun 2020, tahun ini kompetisi PFsains kembali digelar dengan mengusung tema “Inovasi Energi Berbasis Technopreneur”. Pertamina Foundation mengundang masyarakat luas, baik mahasiswa, akademisi, pakar dan praktisi, serta pengabdi masyarakat untuk melakukan implementasi dari penelitian, temuan baru, dan praktik-praktik inovasi teknologi pengembangan EBT. 

Cerita sukses dari perjalanan PFsains 2020 datang dari penerapan 3 proyek EBT terbaik dari peserta yang telah diimplementasikan bersama Pertamina Foundation. Proyek tersebut di antaranya: Smartfocs Power pembangkit listrik bagi masyarakat pesisir, Microbial Desalination Cell penghasil air bersih di Nusa Tenggara Timur, dan Smart Generator dengan sistem hybrid. Ketiganya akan menjadi barometer di tahun 2021 dengan temuan-temuan yang lebih implementatif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Selain itu, Agus Mashud S. Asngari, Presiden Direktur Pertamina Foundation, mengungkapkan adanya target peningkatan jumlah peserta dari tahun sebelumnya yang diikuti dengan efektivitas implementasi dari karya penelitian.

“Tahun lalu, terdapat 365 proposal yang masuk. Di tahun ini kami menargetkan PFsains dapat diikuti lebih dari 500 peserta. Namun lebih dari itu, hal lain yang menjadi fokus kami adalah kemanfaatan hasil research tersebut. Kami mendorong para peserta untuk sebelumnya melakukan survei guna memastikan inovasi yang dikembangkan dapat diaplikasikan. Survei ini tidak dibatasi pada wilayah 3T, namun juga daerah terdekat yang mengalami permasalahan dan memiliki potensi energi,” jelas Agus.

 

Tahun ini total hadiah dan bantuan implementasi yang diberikan sebesar  Rp900.000.000. Hadiah ini termasuk apresiasi Rp2.500.000 untuk 20 peserta terbaik dan Rp10.000.000 untuk 10 peserta terbaik. Dari 10 peserta terbaik, akan dipilih 3 peserta untuk mendapat bantuan  implementasi proyek.

 

Oleh karena itu, indikator penilaian kompetisi juga ditingkatkan. Persentase bobot lebih tinggi diberikan pada penilaian tingkat kebaruan penelitian (novelty), kelayakan (feasibility) serta keberlanjutan (sustainability) prototipe yang dihasilkan harus menunjukan temuan baru yang dapat diimplementasikan serta memiliki kelayakan ekonomi untuk keberlanjutan operasionalnya.

Dengan demikian, PFsains menjadi wadah yang mendorong masyarakat, khususnya generasi muda untuk mengampanyekan penggunaan energi alternatif sebagai upaya menyelamatkan bumi. Terlebih sebagai langkah percepatan yang mendukung tercapainya target penggunaan energi baru terbarukan Indonesia pada tahun 2025.

“Pemerintah sedang menargetkan penggunaan energi baru terbarukan mencapai 23% pada tahun 2025. Untuk itu diperlukan percepatan, karena pada saat ini capaiannya baru sekitar 11,20%. Langkah ini diperlukan sebagai masa transisi energi sehingga kita tidak bergantung pada energi fosil,” kata Ani Wiyanti selaku Ditjen EBTKE Kementerian ESDM.

PFsains 2021 memang menjadi bentuk komitmen Pertamina dalam mendukung kebijakan pemerintah di bidang energi. 

“Program PFsains yang menjadi bagian dari PFseries merupakan ajang kompetisi kreativitas EBT. Diharapkan melalui berlangsungnya program ini dapat menggerakkan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam pengembangan EBT menuju kemandirian energi nasional,” ungkap Agus lebih lanjut.

 

Seleksi ketat akan terjadi sejak awal. Setelah pendaftaran secara online, peserta dihadapkan pada penilaian proposal beserta kelengkapannya. Lolos tahap ini, peserta diminta membuat prototipe dari karya temuannya. Karya prototipe beserta video dan paper presentasi menjadi materi wajib untuk seleksi wawancara.

 

Dalam wawancara, peserta akan berhadapan dengan juri independen berlatar praktisi energi, pakar profesional, akademisi yang kuat dalam konsep serta juri profesional lain dari bidang terkait yang diharapkan nantinya ditemukan karya terbaik yang siap diimplementasikan.

PFsains selain arena kompetisi, juga menjadi wujud pengayaan untuk peningkatan kapasitas keilmuan dan keterampilan di bidang energi. Menjelang babak final, disiapkan paket Webinar Series yang salah satunya temanya mengangkat isu energi dan teknologi masa depan. Disiapkan narasumber dari pembuat kebijakan (pemerintahan), praktisi, akademisi dan dunia usaha sebagai mitra pengguna. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk sharing pengetahuan, konsep, keterampilan dan kisah sukses dari berbagai pihak yang sarat pengalaman.

Berlangsungnya program ini akan menggandeng dan bekerja sama dengan Universitas Pertamina dan Research & Technology Center (RTC) Pertamina. Program juga telah mendapat dukungan dari berbagai praktisi, lembaga, serta Kementerian. 

“Kami memberikan apresiasi yang sangat besar pada acara ini. Bukan semata tentang kompetisi, kita juga akan terus membuka wawasan kepada masyarakat bahwa energi alternatif itu ada, selain energi fosil. Walaupun masih dalam jumlah yang sangat kecil, tapi ini bisa memberikan gambaran bahwa banyak sekali potensi energi yang bisa kita gunakan di masa mendatang,” ungkap Hanafiah Handayani selaku Direktur Akamigas Balongan.