Jakarta, 30 September 2020. Beberapa waktu lalu Pertamina Foundation memberikan bantuan berupa “ember kangkung lele” di beberapa lokasi Provinsi Jakarta, Yogyakarta, dan Kabupaten Kebumen, khususnya untuk masyarakat marginal yang terdampak ekonominya di masa pandemi Covid-19. Di Jakarta, Pertamina Foundation memberikan bantuan tersebut pada kelompok masyarakat penderita kusta di dua lokasi. Selanjutnya, di Yogyakarta diberikan kepada kampung wisata yang mempunyai tanah tidak dipakai seluas 800 meter, dan terakhir diberikan kepada penyandang disabilitas di Kebumen.

Minggu lalu, saya berkesempatan untuk mendatangi salah satu lokasi pemberian bantuan yaitu di Kampung Namburan Lor, Yogyakarta.  Ditemui oleh Pak Lilik selaku Ketua RT di sana bersama Ir.  Sudarmanto alias Pak Mantrek dan Pak Bambang yang bertindak selaku pengelola langsung kebun masyarakat yang sepanjang hari berada di kebun secara sukarela. Hadir pula Mas Tri Wahyono sebagai pembatik yang tempo hari memberikan pelatihan membatik secara daring. Mereka bercerita banyak tentang pengelolaan kebun milik bersama tersebut.

Pak Mantrek menceritakan bahwa secara umum dengan adanya ember kangkung lele ini, membuat kebun yang ditanami aneka sayuran kebutuhan warga menjadi lebih lengkap.  Setelah mulai panen dalam waktu 2 bulan lebih, tepat di depan kebun yang terhitung cukup luas untuk ukuran kampung, berdiri sebuah warung menyetan. Meskipun tidak setiap hari bisa dipanen, namun hal ini mendorong seorang ibu “berani” membuka warung kecil yang buka mulai jam 11 siang. Hasil dari panen lele ini langsung dibelikan bibit berukuran 8 cm oleh pengelola yang diyakini lebih tahan dibanding ukuran yang lebih kecil.

Pak Bambang juga menambahkan bahwa memelihara lele dalam ember itu tidak mudah. Tingkat kematian rata-rata adalah sebesar 30 persen sehingga dirinya mendapat saran untuk membuat pompa kecil yang bisa menguras sepertiga air dalam ember setiap harinya. Dengan demikian, kandungan amoniak dalam air menjadi berkurang dan ikan dapat tumbuh sehat sekaligus tingkat kematiannya berkurang sampai separuhnya.

Ada yang menarik dari kebon warga di Namburan Lor ini. Kita bisa melihat ibu-ibu yang akan memasak harian dan bisa memetik sayur-sayuran secara langsung. Kebun yang belum seluruhnya dimanfaatkan itu, ternyata ditanami oleh aneka sayuran, seperti terong ungu, terong hijau, kacang panjang, buncis, ketela pohon, kecipir, jagung, bayam, tomat, kangkung, lidah buaya, kembang telang dan aneka sawi.  Mereka memetik sayuran tersebut sesuai kebutuhan rumah tangganya, yaitu untuk memasak dan memasukkan uang ke dalam kaleng.  Ini membuktikan bahwa model gotong royong masih berjalan baik di masyarakat kita. Pak RT berujar bahwa ibu-ibu sudah pintar dan tahu berapa harga dari sayur yang dibelinya dari hasil memetik itu. Artinya, tidak ada keuntungan yang berlebih dari kebon yang dianggap sebagai tanaman mereka sendiri.

Kita berharap model gotong royong seperti ini juga bisa dijalankan di kampung-kampung lain dalam rangka kemandirian pangan yang sangat mendasar, khususnya di masa pandemi ini dimana semua masyarakat merasakan dampaknya.

(AM.Unggul Putranto/Dir Operasi PF)